Kamis, 28 Mei 2009

Makalah Pemerolehan Bahasa

BENTUK PEMEROLEHAN BAHASA ‘M. GIBRAN PRADANA’

YANG MENGGELIKAN[1]

Oleh : Narbuqo Nanang Sunarso

Pengkajian Bahasa, Solo 4

Abstrak

Setiap anak mengalami proses pemerolehan bahasa yang beragam. Ada yang cepat memperoleh bahasa dengan banyak kosakata, ada yang biasa saja, namun ada juga yang sedikit memperoleh kosakata, bahkan ada yang terlambat. Ada yang lancar mengucapkan huruf, ada yang bercampur antara huruf yang satu dengan yang lainnya, ada juga yang cadel, tidak dapat mengucapkan bunyi getar [r]. Pemerolehan bahasa yang dialami oleh M. Gibran Pradana dari umur dua tahun hingga masuk SD ada keunikanny, bahkan menimbulkan kegelian bagi orang tua, keluarga, atau orang yang mendengarnya. Dia sedikit memiliki kosakata dan sangat cadel. Dia juga sulit menyanyi

Kata kunci:

Dana, pam-pam, cadel, menyanyi

A. Pendahuluan

Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Istilah pemerolehan dipakai untuk padanan istilah Inggris acquisition, yakni proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (native language) (Dardjowidjojo, 2008:225). Istilah ini dibedakan dari pembelajaran yang merupakan padanan dari istilah learning. Dalam pengertian learning proses itu dilakukan dalam tatanan yang formal, di belajar di kelas dan diajar oleh seorang guru. Dengan demikian, proses dari anak yang belajar menguasai bahasa ibunya disebut pemerolehan bahasa, sedangkan proses dari orang (umumnya dewasa) yang belajar di kelas disebut pembelajaran bahasa.

Menurut Sofa (2008), ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.

Pemerolehan bahasa anak terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa telah memperoleh bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.

Pemerolehan bahasa sangat erat dengan perkembangan kognitif, yakni, pertama, jika anak dapat menghasilkan ucapan-ucapan yang berdasar pada tatabahasa yang teratur rapi, tidaklah secara otomatis mengimplikasikan bahwa anak telah menguasai bahasa yang bersangkutan dengan baik. Kedua, pembicara harus memperoleh kategori-kategori kognitif yang mendasari berbagai makna ekspresif bahasa-bahasa alamiah.

Manusia mempunyai warisan biologi yang sudah dibawa sejak lahir berupa kesanggupannya untuk berkomunikasi dengan bahasa khusus manusia. Kemampuan berbahasa sangat erat hubungannya dengan bagian anatomi dan fisiologi manusia. Tingkat perkembangan bahasa semua anak adalah sama, artinya semua anak dapat dikatakan mengikuti pola perkembangan yang sama.

Menurut Chomsky, setiap anak mampu menggunakan suatu bahasa karena adanya pengetahuan bawaan yang secara genetik telah ada dalam otak manusia. Lenneberg dalam Hipoteses Umur Kritis-nya menyatakan bahwa pertumbuhan bahasa seorang anak itu terjadwal secara biologis (Dardjowidjojo, 2000: 301).

Orang tua (orang dewasa) umumnya tidak merasakan bahwa menggunakan bahasa merupakan suatu keterampilan yang luar biasa rumitnya. Pemakaian bahasa yang terasa lumrah karena memang tanpa diajari oleh siapa pun seorang bayi akan tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan bahasanya. Dari umur satu tahun sampai dengan umur dua tahun seorang bayi mulai mengeluarkan bentuk-bentuk kata bahasa yang telah diidentifikasi sebagai kata. Ujaran satu kata ini tumbuh menjadi ujaran dua kata dan akhirnya menjadi kalimat yang kompleks menjelang umur empat atau lima tahun. Setelah umur lima tahun, seorang anak mendapatkan kosa kata dan kalimat yang lebih baik dan sempurna.

Menurut Sofa, masa perkembangan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting, yaitu (a) perkembangan prasekolah, (b) perkembangan ujaran kombinatori, dan (c) perkembangan masa sekolah. Perkembangan pemerolehan bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata, dan ujaran kombinasi permulaan.

Perkembangan bahasa pralinguistik ditandai oleh adanya pertukaran giliran antara orang tua (khususnya ibu) dengan anak. Pada masa perkembangan pralinguistik anak mengembangkan konsep dirinya. Ia berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan orang lain, serta hubungan dengan objek dan tindakan pada tahap satu kata anak terus-menerus berupaya mengumpulkan nama benda-benda dan orang yang ia jumpai. Kata-kata yang pertama diperolehnya dalam tahap ini lazimnya berupa kata yang menyatakan perbuatan, kata sosialisasi, kata yang menyatakan benda, dan kata yang menyatakan pemerian.

Perkembangan pemerolehan bahasa yang dialami oleh Muhammad Gibran Pradana sebenarnya seperti perkembangan anak pada umumnya. Akan tetapi, ada suatu kelemahan atau keunikan pemerolehan bahasa yang dialami oleh anak tersebut yang menjadikan kegelian. Bagaimanakah bentuk pemerolehan bahasa anak (khususnya yang dialami oleh M. Gibran Pradana)? Bagaimana bentuk keunikannya? Apakah ada unsur keterlambatan dalam pemerolehan bahasa?

Makalah ini membahas – walaupun hanya sekilas – bentuk pemerolehan bahasa anak, khususnya yang dialami oleh M. Gibran Pradana (anak penulis) dari umur satu tahun hingga tujuh tahun dan kemungkinan adanya unsur keterlambatan dalam pemerolehan bahasa pada diri anak tersebut.

Data yang diperoleh dalam tulisan ini merupakan kosakata yang pernah diucapkan oleh anak tersebut yang masih diingat oleh penulis dan Mamahnya (istri penulis). Untuk memperoleh keakuratan data, data yang berupa kumpulan kosakata yang pernah diucapkan oleh anak tersebut, kemudian dikonfirmasikan dengan nenek, anggota keluarga lainnya, dan tetangga dekat yang pernah menggendong atau bermain dengan anak tersebut.

B. Pemerolehan Bahasa M. Gibran Pradana

Muhammad Gibran Pradana – biasanya dipanggil Dana – anak kedua penulis, lahir di Gadingrejo, Kab. Tanggamus, Lampung, pada tanggal 13 Oktober 1999. Pada umur dua tahun (November 2001) mengikuti orang tuanya pindah ke Karanganyar, tepatnya di Matesih, karena Papahnya mutasi tugas ke SMA Negeri Karangpandan. Ketika di Lampung, Dana hidup dalam lingkungan masyarakat dari berbagai suku, tetapi dominan suku Jawa, sehingga komunikasinya dominan bahasa Jawa (bahasa Jawa kasar/ngoko). Namun demikian, Dana sempat memperoleh beberapa kosakata bahasa Indonesia. Setelah pulang ke Jawa, pemerolehan bahasa dominan bahasa Jawa, sedangkan kosakata bahasa Indonesia didapatkannya di lingkungan sekolah dan dari melihat televisi.

Proses bicara anak biasanya dihubungkan dengan proses motorik, misalnya berjalan. Selain itu, ada anggapan bahwa anak yang lebih dahulu dapat berjalan, akan terlambat bicaranya. Sebaliknya, anak yang terlebih dahulu dapat bicara, akan terlambat berjalannya. Dalam diri Dana anggapan tersebut tidak terbukti. Dana lambat dalam bicara, juga lambat dalam gerak motorik. Dana baru dapat berjalan ketika berumur 18 bulan (1,5 tahun).

Pemerolehan bahasa yang diperoleh oleh Dana hingga umur dua tahun sangat minim. Minimnya pemerolehan kosakata yang diucapkan, sempat membuat adanya rasa kekhawatiran pada Mamahnya. Akan tetapi, orang tua Dana tinggal di desa, jauh dari kota. Jadi, tidak ada terpikirkan akan dikonsultasikan ke dokter. Rasa khawatir itu hilang sendirinya seiring dengan jalannya waktu. Kalaupun dibandingkan dengan Yudi (anak Prof. Kunardi Hardjoprawiro, dalam artikelnya), Dana masih lebih baik. Yudi hingga dua tahun hanya mampu menghasilkan suara [hoa-hoa] seperti suara yang dikeluarkan saat menangis. Sedangkan Dana sudah dapat mengucapkan suara bervariasi, walaupun jumlahnya terbatas.

Kata yang sempat diucapkan oleh Dana hingga berumur dua tahun masih seperti yang diucapkan ketika masih berumur satu tahun. Kata-kata tersebut didominasi bunyi vokal. Itu pun kadang tidak jelas maknanya. Misalnya, [ae] “mbahe” (‘nenek’), [iya] “Windha” (nama keponakan), [bo] “kebo” (‘kerbau’), [aes] “nangis”, [adza] “Nanda” (nama kakaknya). Ini berbeda sekali dengan yang diperoleh Echa ketika telah berumur dua tahun. Echa dapat mengucapkan [peda] “sepeda”, [tupu-tupu] “kupu-kupu”, dan sebagainya (Dardjowidjojo, 2000: 126).

Kosakata bahasa Indonesia yang pernah diucapkan oleh Dana hingga berumur antara dua tiga tahun, antara lain, [ndak ole] “tidak boleh”, [әgi] “pergi”, [amal adi] “kamar mandi”, [duk usi] “duduk kursi”, dan sebagainya.

Pada umur tiga tahun, Echa telah menguasai lebih dari sepuluh jenis huruf, yaitu [p], [b], [t], [d], [h], [m], [n], [l], [w], [y], [k], [s], [ŋ], walaupun kadang-kadang masih tercampur huruf [d] dan [g], misalnya [datal] “gatal” [ladi] “lagi”. Bahkan, Echa sudah dapat mengucapkan [limot] “remot” (Dardjowidjojo, 2000: 102-103).

Dana waktu berumur tiga tahun belum menguasai huruf sebanyak itu. Masih banyak kata yang ‘campur’ maknanya. Misalnya, [ae] untuk “mbahe”, “kae” (‘itu’), dan “wae” ‘saja’ dan [atal] untuk “gatal” dan “nakal”.

Percampuran huruf juga terjadi, misalnya antara [h] dan [d], [j], [b]

[holan] “dolan” ‘bermain’

[haluk] “jaluk” ‘minta’

[hәluk] “jeruk”

[hәli] “beli”

[hulik] “bulik” ‘tante’

[hobok] “bobok” ‘tidur’

[hudhe] “budhe”

C. Peristiwa Menggelikan Hingga Berumur 6 Tahun

Umur lima tahun, Dana masuk taman kanak-kanak. Keanehan terjadi. Lebih dari 6 bulan masuk TK, Dana tidak mau berbicara selama mengikuti kegiatan belajar. Apalagi menyanyi. Ia selalu diam. Selama sekolah, Mamahnya selalu menemani di sampingnya. Jika ia tidak sedang menggambar atau menulis, tangannya selalu memegangi baju atau tangan Mamahnya. Interaksi dengan teman-teman juga terbatas Akibatnya, pemerolehan bahasa pada masa ini sangat minim. Ada olokan dari ibu-ibu yang mengantarkan anaknya sekolah. Dana “bisu” (tunawicara).

Kami selaku orang tua juga memiliki rasa kekhawatiran melihat keadaan tersebut. Apalagi Mamahnya. Ia malu dan capek setiap hari harus duduk di sebelah anak TK. Bahkan, kadang-kadang jongkok. Bayangkan, dari jam 08.00 hingga jam 09.00, istirahat sebentar, lalu masuk lagi hingga jam 10.00 harus jongkok karena tidak disediakan kursi oleh sekolah!

Mengapa ‘aksi diam’ tersebut terus berlanjut? Padahal, jika di rumah atau setelah sekolah, dia melakukan aktivitas seperti anak-anak umumnya. Apakah sebenarnya dia tidak mau sekolah? Apakah takut? Tidak! Ketika di rumah ditanya, dia tidak takut sekolah dan tidak ada yang ditakuti. Dia juga kelihatan senang dalam mengikuti pelajaran, tidak ‘ngambek’ apalagi menangis.

Sebagai suami, penulis memberi nasihat kepada Mamahnya Dana. Hal tersebut tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Biarkan saja. Yakin saja, suatu saat jika waktunya pasti akan berubah. Betul juga. Setelah satu semester (masuk semester 2), Dana mau ditinggal, dan sudah berani mengucapkan sepatah dua patah kata. Namun, untuk mau menyanyi, belum mau. Dana baru mau dan bisa menyanyi setelah 1,5 tahun di TK.

Hingga berumur enam tahun atau masuk SD, Dana belum bisa sama sekali mengeluarkan bunyi huruf getar [r]. Semua kata yang mengandung [r] dilafalkan [l]. Dibandingkan dengan Echa, Echa sudah dapat mengucapkan bunyi getar [r] dengan baik ketika Echa berumur 4 tahun 9 bulan (Dardjowidjojo, 2000: 113). Kata-kata yang diucapkan Dana, misalnya

[pilo] “piro” ‘berapa’

[alep la] “arep ora” ‘mau tidak’

[telus] “terus”

[damal] “Damar” (nama temannya)

[sepul] “sepur” ‘kereta api’

Akibat dari itu, jika bermain Dana selalu digoda, diolok-olok, dan dijadikan bahan tertawaan oleh teman-teman, kakak kelasnya, atau keluarga dewasa. Misalnya, ia disuruh mengucapkan kata ‘laler’, ‘peri’, ‘pring, ‘ril’. Dana cadel, bahkan sangat cadel. Hingga akhir kelas 1, ia belum bisa mengucapkan bunyi getar tersebut, sehingga ia tidak banyak berkata-kata. Katanya, “Isin diguyu” (malu ditertawakan).

Dana pernah memanggil nama salah seorang tetangga yang masih remaja dengan sebutan [pam-pam]. Orang tersebut sering bermain ke rumah penulis dan menggoda Dana. Nama asli orang tersebut adalah Pramono. Mengapa Pramono bisa menjadi pampam? Jika ditelusuri, kata Pram diucapkan oleh Dana menjadi [pam]. Hal ini karena cadelnya tadi. Dana memanggilnya beberapa kali, [pam-pam-pam, he pam mas pam]. Jadilah, pam-pam. Anehnya, hingga sekarang orang tersebut biasa dipanggil mas Pam-pam.

Peristiwa menggelikan lainnya yaitu ketika Dana minta makan dengan [iak] “iwak” ‘ikan’. Dalam lingkungan penulis, “iwak” bisa bermakna lauk (dari daging) dapat juga bermakna ikan (laut, air tawar). Penulis mencarikan daging ayam untuk lauk makan. Dia tidak mau. Dia malah menangis. Kemudian, diberi dagingsapi. Ia tetap tidak mau. Dia bahkan menangis sekeras-kerasnya. Katanya [maәm iak ulip] “maem iwak urip” ‘makan dengan ikan hidup’. Ikan hidup? Makan dengan ikan hidup? Kami sekeluarga kebingungan. Dana minta makan lauknya ikan hidup. Ikan hidup yang bagaimana?

Dia minta diantar ke terminal bus. Di terminal bus tersebut dia menunjuk ke tempat penjual ikan. Di tempat penjual itu dia menunjuk ikan-ikan yang masih hidup yang diletakkan di ember-ember plastik. Ada ikan emas, kakap, lele, dan sebagainya. Ooo, ternyata dia minta lauk ikan emas. Bukan berarti ikan yang masih hidup, namun ikan yang sudah digoreng. Peristiwa tersebut masih menjadi pengalaman yang tidak terlupakan hingga sekarang.

Dana sekarang telah berumur delapan tahun dan duduk di kelas 3 SD. Kami sekeluarga sudah tenang, sekarang dia tidak cadel lagi. Kosakatanya juga sudah banyak. Kecadelan hilang ketika dia berada di kelas dua, setelah banyak bergaul dengan teman-teman bermainnya. Ketika ditanya mengapa dulu di TK dia diam saja. Katanya, malu kalau ditertawakan. Kata-kata yang diucapkan memang menggelikan. Ia memang cadel.

D. Penutup

Pemerolehan kebahasaan yang dialami oleh Dana sebenarnya bukan merupakan suatu keterlambatan. Ia dapat mengucapkan kata-kata sederhana sejak berumur satu tahun. Beberapa kosaka dapat diucapkan hingga berumur tiga tahun. Ia hanya mengalami kelambatan dalam perkembangan pemerolehan bahasa. Perkembangan pemerolehan bahasa yang lambat karena faktor psikologis. Ia takut ditertawakan oleh lingkungannya karena cadel. Ketidakjelasan makna kata yang diucapkan juga membuat dia rendah diri. Ia malu berbicara. Akibatnya, pemerolehan kosakatanya juga tidak banyak.

Keunikan pemerolehan bahasa yang menjadikan kegelian, misalnya ketika ia minta makan dengan lauk [iak ulip] ‘ikan hidup’. Padahal yang ia maksud adalah minta lauk ikan emas. Ia juga memanggil tetangganya [Pam-pam] yang maksudnya Pramono. Pada saat sekolah TK, ia sempat melakukan “aksi diam” selama satu semester. Semua peristiwa tersebut menjadikan pengalaman tak terlupakan bagi orang tuanya.

Daftar Pustaka

Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. Echa: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

_______. 2008. Psikolinguistik, Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Hardjoprawiro, Kunardi. 2007. Pemerolehan Kosa Kata yang Terlambat. artikel. (materi kuliah Pascasarjana).

Sofa. 2008. “Pemerolehan Bahasa Pertama dan Kedua” dalam http://massofa.wordpress.com/2008/01/28 diakses tanggal 22 April 2008.



[1] Tugas Mata Kuliah Pemerolehan Bahasa dosen Prof. Dr. Kunardi H.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar